|
PEMBINAAN WAKIL KETUA MAHKAMAH AGUNG DI PENGADILAN TINGGI AGAMA YOGYAKARTA. Kita berjuang Bukan Untuk Nama Tapi Untuk Amal Sholeh Itu adalah inti dari pembinaan Wakil Ketua mahkamah Agung RI Ahmad Kamil. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Badilag Mahkamah Agung RI pada pembinaan yang dilaksanakan di PTA Yogyakarta (Jum’at 20 Januari 2011). Pada kesempatan yang dihadiri beberapa Ketua Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta, Ahmad Kamil juga meminta aparat pengadilan agama untuk kembali ke habitat yang khas, yaitu menyenangi dan mendalami ilmu pengetahuan. Kedepannya, kita tidak bisa diam, tanpa prestasi tandasnya. Kedepannya, seorang pimpinan Pengadilan Tinggi Agama jika dianggap tidak mampu, maka dikembalikan ke hakim tinggi biasa. Hal ini telah terlaksana di peradilan umum. Untuk peradilan agama, hal ini masih dalam tataran wacana. Sebaliknya, jika di tingkat pertama ada hakim-hakim yang dianggap cakap, maka pimpinan pengadilan banding dapat merokemendasikan hakim tersebut sebagai hakim tinggi. Ahmad Kamil juga kembali menyegarkan ingatan aparat pengadilan agama dengan perjuangan pengadilan. “Perjuangan kita masih panjang”, tegasnya. Masih banyak yang harus diselesaikan, antara lain hukum terapan peradilan agama, hukum acara ekonomi syari’ah. Aparat pengadilan agama tidak bisa tenang-tenang dan ongkang-ongkang kaki. Perjuangan aparat pengadilan bukan hanya masalah talak dan cerai. Remunerasi Bukan Penghalang Untuk Kinerja Masalah remunerasi menjadi 100% menurut Ahmad Kamil jangan jadikan sebagai syarat untuk meningkatkan kerja. Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, tapi jawaban yang ada hanyalah: “Insya Allah” yang disambut ger-geran peserta yang hadir. Menurutnya angka-angka penilaian yang didapatkan dari pihak-pihak yang menilai kinerja Mahkamah Agung dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Misalnya data base kepegawaian kita di angka 6. Sebagai pimpinan Mahkamah Agung juga memperhatikan kinerja bahwahannya, sehingga antara reward dan punishment akan berimbang . Contohnya Mahkamah Agung telah memberi apresiasi pada Ketua Pengadilan Negeri Mataram yang menunjukkan angka kinerja yang cukup tinggi di point 7, karena di PN Mataram bisa menertibkan tilang dan dapat menyelesaikan 30 dari 40 eksekusi dengan aman. Khusus untuk wilayah PTA Yogyakarta, Ahmad Kamil juga meminta, hakim-hakim tinggi yang ada di PTA Yogyakarta yang bukan berasal dari wilayahnya jangan dianggap sebagai pendatang haram. Hakim-hakim di PTA Yogyakarta untuk sampai di Yogyakarta, setelah melewati beberapa kali mutasi. Menurutnya pimpinan harus bisa mengayomi dan menyelesaikan masalah. Bernostalgia di Yogyakarta Hakim Agung Habiburrahman yang juga menyertai wakil Ketua MARI dalam pembinaan yang juga dihadiiri hakim-hakim peradilan agama se DIY banyak membagi pengalaman saat pertama menginjakkan kaki di Yogyakarta. Baginya Yogyakarta adalah kota yang penuh semangat sehingga memberinya motifasi untuk menimba ilmu. Kelak dirinya mengharapkan Yogyakarta bisa menjadi tempat peristirahatan kelak setelah purna tugas menjadi hakim agung. Marilah jadikan Yogyakarta sebagai “alat” untuk menimba ilmu. Hal ini ditambahkannya dengan mengutip Hadits Nabi : “carilah ilmu dari dalam kandungan hingga liang lahat” atau Long Live education. Ilmu bagi Habiburrahman adalah modal untuk dunia dan akhirat. Selain itu Habiburrahman juga menyampaikan perjalanannya ke Jepang, tenyata bertemu dengan Prof Tatsuki Inada dan Prof Kusano Yoshiro yang tertarik dengan mediasi di peradilan agama. Mereka begitu takjub dengan perkembangan mediasi di peradilan dan berkehendak mengunjungi Pengadilan Agama bantul untuk melihat secara langsung bagaimana mediasi itu dilaksanakan di peradilan agama. Website Badilag.net sebagai Sarapan Bersama. Selain Hakim Agung Habiburrahman dan Waka MA, pada acara pembinaan tersebut, Dirjen Badilag MA juga berkesempatan memberikan pengarahan.Lagi-lagi Wahyu Widiana melontarkan apresiasi terhadap kinerja aparat Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta Yogyakarta dan jajarannya. Menurutnya selama melakukan road show ke beberapa pengadilan agama antara lain Tual dan Liwa, nampak sekali komitmen aparat pengadilan untuk melaksanakan reformasi dan program-program unggulan, manajemen perkara. Wahyu Widiana melanjutkan, bahwa penilaian-penilaian yang menobatkan pengadilan-pengadilan agama di wilayah PTA Yogyakarta sebagai best of the best adalah lembaga asing. Penilaian juga termasuk penilaian hal-hal yang kecil antara lain ketersediaan air minum, permen dan pengaturan tata ruang yang diatur sedemikian rupa sehingga yang berperkara merasa nyaman tanpa harus berinteraksi dengan aparat pengadilan agama. Di akhir sambutannya, dirjen badilag mengharapkan ada semangat dari warga pengadilan untuk memiliki badilag. Hal tersebut terbaca dari beberapa komentar yang disampaikan oleh aparat pengadilan, antara lain “aku bangga menjadi badilag”, “ayo badilag maju terus”, dan lain-lain. Kesemua ini adalah merupakan modal untuk pembaharuan. Di akhir pengarahannya, Wahyu widiana meminta agar warga peradilan agama untuk setiap hari membuka website badilag. “mari jadikan website badilag.net sebagai sarapan bersama”.Untuk pegawai di badilag, hal ini sudah wajib, tutupnya. (NA) |